Pages

Sabtu, 29 Februari 2020

Kemerdekaan Itu Diberikan, Bukan Diperjuangkan - Resensi


KPI IDIA PRENDUAN

Judul Buku      : Merdeka Belajar Diruang Kelas
Penulis             : Najeela Sihab dan Komunitas Guru Pelajar
Penerbit           : Literati, Imprint dari Penerbit Lentera Hati
Terbit               : Cetakan Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 231 Halaman
ISBN               : 978-602-8740-62-3
Peresensi         : Ahmad Huzaini, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IDIA Prenduan

“Kemerdekaan bukan sekedar kepatuhan atau perlawanan. Kemerdekaan adalah sesuatu yang diperjuangkan, bukan diberikan.”
Dalam buku ini kita akan diajarkan bagaimana kita sebagai guru akan mendapatkan kemerdekan, kita juga akan diajarkan bagaimana memberikan kemerdekaan bagi murid, kita juga akan di ajarkan bagaimana mempraktekkan kemerdekaan dalam belajar. Sehingga masing-masing dari guru juga dari diri pelajar akan timbul rasa saling mengerti, sehingga tercapai tujuan dalam sebuah pembelajaran.
Saat kita berbicara bahwa kita percaya kemerdekaan guru dan kemerdekaan belajar, sebetulnya kita dengan jelas menunjukkan kepercayaan kita pada beberapa hal. Pertama, bahwa proses belajar butuh kemerdekaan, dan kemerdekaan itu harus melekat pada subjek yang melakukan proses belajar, anak ataupun orang dewasa. Kedua, bahwa proses menuju kemerdekaan adalah proses yang harus melibatkan dukungan banyak pihak, sehingga ketika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, kita tidak hanya menyalahkan satu pihak saja, dalam hal ini biasanya yang disalahkan adalah guru, seakan-akan guru tidak benar mendidik anak muridnya, padahal sejatinya kesalahan itu dilakukan semua orang, baik orang tua, maupun masyarakat, dan ketika semua orang saling menyalahkan, maka yang jadi korban adalah anak-anak bangsa.
Kemerdekaan dalam belajar sangatlah penting, baik untuk pengajar ataupun untuk pelajar. Bagi pengajar (guru), kemerdekaan adalah bagian penting dari pengembangan, karena sama seperti burung yang tidak berani keluar dari kandang. Kompetensi guru tidak akan  bisa optimal berdampak tanpa kemerdekaan, karena hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak, hanya guru yang antusiaas yang menularkan rasa ingin tahu pada anak, dan hanya guru belajar yang pantas mengajar. Bagi pelajar (siswa), seorang murid merdeka belajar mampu menggunakan semua kemampuannya yang ia miliki, mampu bertanya kepada orang yang mereka anggap tepat, dan mampu bangkit dari upaya belajar yang belum berhasil.
Mengajarkan merdeka belajar adalah tantangan, karena banyak pendidik yang terjebak salah kaprah mengajarkan materi pelajaran sebatas yang digariskan kurikulum. Kurikulum menjadi subyek penentu arah belajar guru dan pelajarnya. Padahal, proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan pada guru dan pelajar untuk menentukan tujuan dan cara belajar yang efektif. Guru merdeka untuk menemukan paduan yang pas antara tuntutan kurikulum, kebutuhan pelajar dan situasi lokal. Pelajar merdeka menetapkan tujuan belajar bersama, memilih cara belajar yang sesuai, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.
Merdeka belajar adalah saat murid bersama guru dikelas menentukan tujuan belajar. dalam buku ini di Hal: 74 Karunianingtyas Rejeki,  salah satu komunitas guru belajar mengatakan bahwa tidaklah mudah memberikan proses pembelajaran yang berarti ketika mereka tidak mengetahui tujuan dari proses belajar tersebut, belajar menjadi mudah menguap, sekarang bisa, besok lupa karena tidak tau untuk tujuan apa.
Maka ketika merancang proses belajar bagi mereka, yang harus selalu diingat adalah bahwa mereka mengetahui tujuan dari proses belajar yang di jalani bersama-sama, bahkan kalau ingin menerapkan kemerdekaan belajar, kita harus rela memberikan  kemerdekaan dalam hal tujuan yang ingin mereka capai, target mereka ketika mereka belajar, bagaimana mencapai tujuan tersebut, dan apa saja pencapaian mereka selama belajar.
Sering kita temukan para guru meminta anak muridnya untuk menjawab berbagai pertanyaan, dengan maksud bahwa jika anak menjawab dengan benar semua pertanyaan berarti mereka sudah menguasai pelajaran, bahkan mungkin cara inipun sering kita lakukan terhadap murid-murid kita. Padahal metode seperti ini mebuat anak-anak bosan ketika mendapatkan soal dari guru, maka dalam buku ini Hal:113 Suhud Rois mengatakan, bahwa meminta anak untuk membuat pertanyaan sangat penting untuk melatih berfikir anak dari sudut pandang yang berbeda oleh karenanya muncullah kemudian sebuah cara membuat soal yang berbeda.
Jadi guru yang membuat jawaban, anak yang membuat pertanyaan, tujuannya adalah selain agar anak tidak bosan, juga menggali seberapa dalam pemahaman anak terhadap materi yang sudah dipelajari. Tipe soal uraian hanya mampu menampilkan jawaban sesuai pertanyaan saja dan tidak memberi peluang kepada anak untuk menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi, apalagi soal pilihan ganda yang kadang hanya dengan faktor keberuntungan, anak mendapatkan jawaban yang tepat.
Nah, bagaimana kalau guru menyediakan jawabannya saja, anak yang membuat pertanyaannya? Pertama anak merasa tertantang, ia mendapat peluang untuk unjuk gigi. Kalau saja soal yang diberikan guru adalah: “Dimana ibu kota Jawa Barat?” anak hanya boleh menjawab Bandung jawaban yang lain salah, beda halnya kalau begini: “Buatlah tiga pertanyaan yang jawabannya bandung!” anak di ajak mengeluarkan semua yang ia ketahui tentang bandung. Maka muncul lah rasa antusias dalam belajar yang selanjutrnya melahirkan kegembiraan. Antusias dan kegembiraan dalam belajar itu penting , belajar bukan bersusah-susah, berpayah-payah. Belajar itu bersenang-senang, dan bergembira,  sehingga kemudian akan tumbuh rasa cinta belajar. Belajar akan menjadi aktivitas yang dinantikan karena menantang. Karena tantangan itu menyenangkan, sesuatu yang menyenangkan akan membuat ketagihan, dan ketagihan  dalam belajar.
Bagaimana mungkin mereka akan meraih bintang nan jauh disana, jika untuk sekedar mengangkat tangan utuk bertanya saja mereka tidak mampu, maka dengan adanya buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas ini kita bisa membiarkan bahkan mendorong mereka untuk meraih bintang-bintang mereka, pengalaman-pengalaman para guru yang ada dibuku ini bisa dijadikan contoh dan inspirasi buat kita untuk mengajarkan kepada anak-anak kita tentang merdeka belajar sehingga buku ini cocok untuk dibaca oleh semua guru yang yang menginginkan suasana belajar lebih menyenangkan agar anak-anak kita tidak bosan dalam belajar, hanya saja buku ini kalau dibaca hanya sepintas terkesan banyak bahasa yang diulang-ulang. Terakhir, selamat membaca,  dan semoga dengan hadirnya buku ini mampu membuat kita menjadi guru yang merdeka yang mampu memberi kemerdekaan kepada orang lain. Salam merdeka untuk para guru INDONESIA.







Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Subscribe!

Mars IDIA Prenduan